Minggu, 14 Desember 2014

Belajar Dari Sebuah Pertanyaan (Penemu Globe)

Oleh: Abi Khalid Al Abdillah
Awalnya, saya hendak merapikan buku-buku yang berserakan di kamar. Saya tata berdasarkan katalog yang saya tentukan sendiri jenis-jenisnya, seperti buku-buku tentang fiqh dan hukum-hukum Islam, maka saya taruh di rak paling atas. Selanjutnya pada kitab-kitab Hadist, saya kumpulkan di rak kedua dari atas.
Selanjutnya, saya memilah-milah beberapa buku di atas kasur, sesekali saya baca beberapa buku guna mengembalikan ingatan. Tiba-tiba terdengar suara "cliiing" dari HP saya, suara yang menandakan bahwa terdapat message melalui aplikasi WhatsApp yang telah terinstall pada Nokia 5233 milik saya. Pesan itu berbunyi, "Kang, penemu globe atau bola dunia siapa?"
Saya mencoba untuk mengingat-ingat karena saya pernah membaca perihal itu dalam suatu buku. Lantas, saya balas, "Yang sabar ya, saya coba cari tahu dulu. Kali aja ada di buku."
Sebenarnya, dengan klik "penemu globe atau bola dunia" di sebuah search engine (Google) itu mudah dilakukan, dan hanya menunggu loading beberapa detik maka akan muncul sebuah jawaban. Tapi, saya bukan type seperti itu jika menjawab sebuah pertanyaan. Kalau hanya sekedar berselancar untuk baca-baca memang sering saya lakukan.
Lalu, tatapan mata saya tertuju pada sebuah buku tebal yang berjudul Ensiklopedi Dunia Islam karya Amirullah Kandu, saya ambil dan buka buku itu, ternyata lebih dari 10 menit tak saya temui siapa gerangan penemu globe tersebut.
Tak putus asa, perut yang mulai laparpun tetap saya cuekin. Demi sebuah ilmu, maka hal kecil sesekali perlu ditunda. Saya secara spontan teringat sebuah buku yang judulnya sangat panjang sekali. Saya cari di rak, ternyata tak saya temui. Tangan saya membelah seisi almari, tetap tak saya temui.
"Hmmmm, mungkin di kamar sebelah." pikir saya. Lantas kaki segera melangkah, ternyata buku karya Muhammad Yusuf Abdurrahman itu sedang tergeletak di sebuah guling berwarna pink (jangan berfikir negatif, itu kamar adik saya).
Saya ambil, lalu saya buka secara perlahan. Halaman demi halaman tak luput dari pandangan. Alhamdulillah, akhirnya kedua bola mata saya telah menemukan kata kunci dari yang telah dicari-cari yaitu, globe.
Saya terus cermati, saya baca halaman 148 hingga halaman 153. Hmmm, ternyata jawaban dari teman saya tadi terdapat pada sebuah buku yang berjudul Cara-cara Belajar Ilmuwan-ilmuwan Muslim Pencetus Sains-sains Canggih Modern [Yuk, Cetak Anak-anak Kita Segenius Mereka].
Yah, dari sini saya kembali mendapati sebuah ilmu. Jika saja tak ada pertanyaan dari seorang teman, bisa jadi saya tak akan mendapat tambahan ilmu.
Saya ambil HP dan segera buka aplikasi WhatsAppnya, langsung saya tulis, "Dik, maaf agak lama. Penemu globe atau bola dunia adalah seorang Muslim yang bernama Abu Abdullah Muhammad Al-Idrisi. Beliau membuat globe dari bahan perak pada tahun 1154. Dan globe itu beratnya 400 kg."
"Jadi penemunya orang Islam ya Kang?" balasnya.
"Iya, orang Islam. Hanya saja sejarah telah dibelokkan oleh cendikiawan barat dan seolah-olah ilmuwan baratlah yang menemukan segala-galanya, padahal mereka hanya menjiplak dari pemikir (ilmuwan) Muslim." balasan saya.
Lumajang, 13 Desember 2014

Kerinduan Pada Al-Khansa'

Oleh: Abi Khalid Al Abdillah
Dalam hati kubuang kebencian
Tersisa rindu tanpa keraguan
Di setiap perilakumu yang halus
Beserta tata katamu yang tulus
Rindu ini sepanjang jaman
Tak pudar oleh seribu alasan
Pun tak hilang oleh rintangan
Karenamu, wahai yang menawan
Al-Khansa', benih yang kau tanam
Tak rela bila terpendam
Meski ragamu ada di waktu silam
Kuingin jumpa di kala malam
Al-Khansa', kunikmati peninggalan yang syahdu
Karena rindu akan tetap menjadi rindu
==============================
Sya'ir di atas kupersembahkan pada sosok Al-Khansa'
Al-Khansa' adalah penya'ir TERBAIK sampai detik ini. Bahkan, belum ada yang bisa menandinginya. Para sastrawan kelas duniapun sudah mengakuinya dan merupakan penya'ir paling mahir di Jazirah Arab secara mutlak.

Yaa Allah, Make my last words "La illaha illallah Muhammadur rasulullah."


Bismillahir Rahmanir Rahim...
Di kala mata tampak sayu
Di saat telinga tak menderu
Di kala mulut diam membisu
Di saat hidung tak membau
Di kala tangan mulai layu
Di saat kaki tak mampu melaju
"Fakaifa idzaa tawaffathumul malaa-ikatu yadhribuuna wujuuhahum wa-adbaarahum." (Muhammad: 27)
Kala seonggok daging mulai sekarat
Datang ditemani beberapa malaikat
Menentukan, ringan ataukah berat
Memutuskan, lambat ataukah cepat
Pencabutan ruh yang teramat menyayat
"... wayursilu 'alaikum hafazhatan hatta idzaa jaa-a ahadakumul mautu tawaffathu rusulunaa wahum laa yufarrithuun." (Al-An'am: 61)
Sekalipun dunia begitu singkat
Cobalah sedikit ambil manfaat
Jangan jauh dari sepenggal ayat
Perbanyak ingat, perbanyak khalwat
Diam tawadlu dalam bershalawat
Diharap menuai sebuah syafa'at
Sebagian itulah bekal akhirat
Dinanti, kelak mendapat nikmat
Dari awal hidup yang bermanfaat
"Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuuut-taquullaha haqqa tuqaatihi walaa tamuutunna ilaa wa-antum muslimuun." (Ali-Imran: 102)
Kita hidup kurang lebih sembilan bulan di dalam dalam rahim dan 60 sampai 70 tahun rata-rata usia manusia ketika hidup di dunia. Hal ini berdasarkan Hadist yang berbunyi, "Umur umatku antara 60 sampai 70 tahun, sedikit sekali yang melampauinya." (HR. At-Tirmidzi & Ibn Majah / Tafsir Ibn Katsir III: 537)
Di padang Mahsyar, sebagai perumpamaan satu hari lamanya 50.000 ribu tahun. Dalam tafsir Ibnu Katsir dari Ibnu ‘Abbas mengatakan bahwa sehari pada waktu di akhirat sama dengan waktu lima puluh ribu tahun di dunia. Namun, yang jelas bilangan lima puluh ribu tahun tersebut menjelaskan bahwa itu merupakan bilangan yang sulit untuk dihitung dan mungkin tidak terbatas. Mengenai masalah waktu ini, Ibnu ‘Abbas juga menyebutkan pula bahwa pada hari kiamat, waktu yang dibutuhkan oleh manusia di padang mahsyar hingga datangnya putusan Allah. Artinya ini merupakan waktu yang sangat lama.
"Ta'rujul malaa-ikatu warruuhu ilaihi fii yaumin kaana miqdaaruhu khamsiina alfa sanatin." (Al-Ma'aarij: 4)
Di akhirat, hanya ada dua tempat sebagai terminal terakhir, yaitu Syurga dan Neraka. Hanya Allah yang mengetahui berapa lama waktunya. Semoga amal (bekal) yang kita kumpulkan bisa mengantarkan kita pada tempat yang diridhai-Nya.
Allahumma inni a'udzu bika min 'adzabil qabri... Aamiin.
_______________________________________
Arti dari ayat-ayat di atas:
=> "Bagaimanakah (keadaan mereka) apabila malaikat-malaikat mencabut nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka?" (Muhammad: 27)
=> "...dan diutusnya kepadamu malaikat-malaikat penjaga, sehingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, ia diwafatkan oleh malaikat-malaikat Kami, dan malaikat-malaikat Kami itu tidak melalaikan kewajiban-nya." (Al-An'am: 61)
=> "Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam." (Ali-Imran: 102)
=> "Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya lima puluh ribu tahun." (Al-Ma'aarij: 4)
Lumajang, 12-12-14
Abi Khalid Al Abdillah

Say No To PHP :)

Oleh: Abi Khalid Al Abdillah

Jika engkau belumlah siap, jangan hampiri dan hinggap. Sesungguhnya, wanita itu paling tak suka jika hanya digantung tanpa kejelasan. Wanita tak suka jika hanya diberi kata-kata tanpa pembuktian. 

Jika belum terlalu siap, janganlah engkau melakukan sesuatu yang dapat mencuri hatinya. Janganlah umbar kata atau menciptakan suasana yang bisa menariknya, karena dia bisa langsung jatuh cinta tanpa kau duga. 

Ketahuilah, bila seorang wanita sudah terlanjur cinta, besarnya ombak atau terjalnya jurang pasti mereka lewati. Karena mereka membawa beban cinta yang diharap sejati.

Ketahuilah, jika wanita sudah memberi hatinya, maka ia akan sangat setia. Jika kita menyakitinya, maka ia akan sulit untuk melupakannya. Karena pada dasarnya, gelas yang pecah meski dapat diperbaiki tapi tak akan kembali ke bentuk semula.

Ketahuilah, dalam setiap hubungan percintaan, justru wanitalah yang lebih banyak sebagai pahlawan. Ia tak segan mengorbankan perasaan demi kelanjutan suatu hubungan. Sedangkan kita sebagai kaum pria, lebih banyak sebagai sutradara.

Ketahuilah, bahwa cinta itu mengandung suatu zat adiktif. Siapapun pasti akan ketagihan untuk mencintai maupun dicintai. Maka berhati-hatilah menempatkannya. Jika kita belum cukup umur atau masih bau kencur, jangan sekali-kali memberikan kata-kata manis kepada lawan jenis.

Ketahuilah, kita adalah lelaki sejati, maka jangan jadikan wanita laksana boneka. Dan wanita adalah sosok yang indah, maka tetap jagalah izzah serta iffah. Ingat, jika di masa muda kita sering mengumbar cinta, maka jangan kaget jika kelak kita banyak kecewa di masa tua.

Postingan ini tidak untuk menyudutkan pria atau wanita, ini murni saya tulis dalam keadaan sadar dikarenakan pengalaman. Pengalaman yang akhirnya membuat saya memahami, bahwa cinta itu bukan permainan, bukan hanya sebatas angan, bukan pula sebagai pemuas nafsu atau sebatas kesenangan. Cinta itu memang perlu di perjuangkan, tapi terkadang kita harus memakai strategi pertahanan, menahan dari serangan nafsu yang akan mengotori tujuan suci dari cinta itu sendiri.

Mari jadi pria sejati yang mampu menahan diri dari nafsu birahi. Dan jadilah wanita yang mulia, wanita yang tetap meletakkan mutiara dalam cangkangnya. 
Jangan bertopeng mengatasnamakan cinta, cinta tak perlu topeng untuk menunjukkan bahwa itu cinta, cinta tak butuh rekayasa karena ia akan tetap menjadi cinta. 

Ingat, jangan jadi lelaki PHP (Pemberi Harapan Palsu), juga bagi wanita jangan sampai jadi PHP (Penikmat Harapan Palsu).

Lumajang, 15 Desember 2014


Rabu, 10 Desember 2014

Kiranya Aku Dapat Melayanimu di Syurga


Oleh: Abi Khalid Al Abdillah

"Suamiku, anak-anak kita sudah dewasa. Sebagian juga sudah menikah."

"Iya, waktu terasa singkat. Tak terasa 30 tahun kita telah membina keluarga."

"Suamiku, sadar diri ini telah tua, saya ingin meminta sesuatu hal padamu."

"Apa itu isteriku?"

"Mohonkan pada Tuhan agar aku tetap bisa melayanimu di syurga."

"Adakah permintaan yang lainnya?"

"Tak ada, hanya itu."

"Baiklah, tapi bantulah aku agar permintaanmu itu bisa terwujud duhai isteriku."

Percakapan terhenti sejenak, kedua tangan diarahkan ke bahu sang isteri. Tangan kanan berada di atas bahu kiri, dan tangan kiri berada di atas bahu kanan si isteri. Dipandanglah kedua bola mata isteri dalam-dalam sembari berkata, "Jika hanya itu permintaanmu, maka bantulah aku dengan banyak bersujud, dengan banyak bersyukur, dan dengan selalu tersenyum di hadapanku serta anak-anak kita. Ketahuilah wahai isteriku, engkau sudah memenuhi amanah sebagai isteri dan sebagai ibu, aku sebagai suamimu telah ridha dengan segala pelayananmu terhadapku, terhadap anak-anakku, dan terhadap kehormatan keluarga besar kita. Maka, dengan keridhaanku semoga Allah mengharamkan api neraka untuk menyentuhmu, meski sebatas kulit arimu."

"Wa alhamdulillah, Yaa Robby, jadikanlah kematian kami kelak sebagai perpisahan sementara sebagai jalan untuk bertemu kembali di Syurga-Mu." do'a sang isteri sembari mengusap tetesan air mata yang mengalir di celah-celah kulit wajahnya yang keriput.

Lumajang, 10 Desember 2014

Selasa, 09 Desember 2014

Prahara Negeri Samudra - 3


"Di waktu yang tepat, aku akan turunkan harga bahan bakar."
"Sudah berkuasa masih saja gemar berkoar-koar."

"Aku ini adalah sosok yang religius."
"Percaya kok, terbukti dengan menciptakan banyak kasus."

"Kebebasan beragama telah diatur dalam undang-undang."
"Undang-undang yang hanya sekedar jadi wayang tanpa dalang."

"Kegiatan keagamaan sebisa mungkin akan aman dan terkawal."
"Kenyataannya banyak bawahanmu yang mengalami kemunduran moral."

"Bawahan yang malas, secepatnya kupecat."
"Apalah arti pemecatan jika tangan tetap berjabat."

"Mengenai pendidikan, akan kuterapkan kurikulum berbasis internasional."
"Terbukti banyak guru dan murid yang kehilangan akal."

"Kita kalah dalam sektor pemberdayaan manusia."
"Karena kerjaan kalian yang sia-sia."

"Jangan kultuskan saya, saya orang biasa."
"Itu hasil pencitraan yang direkayasa."

"Stop, jangan bully saya bertubi-tubi."
"Karena kamu semakin banyak beralibi."

"Sebisa mungkin akan saya kabarkan sebuah isu kalau sudah terbukti itu fakta."
"Yang sebelumnya telah diatur oleh mereka-mereka yang mempunyai tahta."

"Kami ini berasal dari kelompok yang pro-rakyat."
"Iya, terbukti dengan adanya kami yang semakin sekarat."

"Pengaturan kapal-kapal asing perlu adanya undang-undang baru yang lebih menekan."
"Dan untuk menyusun undang-undang baru perlu uang jutaan."

"Tenanglah, kita bukan bangsa yang ditakdirkan untuk mengalah."
"Hallo...!!! Lihatlah kurs kita sedang melemah."

"Berkaca pada sejarah, keberhasilan perlu adanya pengorbanan."
"Pasanglah spion di depanmu biar ide-idemu itu tak keblabasan."

"Baklah, saya akan kerja keras biar Negeri sebelah menjadi iri."
"Dengan menjual beberapa aset Negeri?"

"Segala keputusan ini telah dimusyawarahkan dan telah saya resapi."
"Hmmmm, sudah obral janji masih aja hidup dalam mimpi."
=======================================

Wahai Raja, jika ingin Negeri aman sentausa
Gunakan undang-undang yang bersumber dari Tuhan Yang Esa

Wahai Raja, kami tak butuh pidato yang tersusun rapi lewat diksi
Kami butuh aplikasi kerja nyata dari sebuah solusi dan bukan ilusi

Wahai Raja, sampai kapan Negeri ini terus bergejolak
Kami semakin tertindas seakan dipaksa berjalan merangkak

Ini bukan hujatan, bukan cacian atau umpatan kata-kata kasar
Sekedar ingin kamu memimpin Negeri ini dengan cara yang benar

Kami lelah, tapi kami tak mampu untuk pasrah
Karena kami bermimpi sebuah Negeri seperti dinasti Abbasyah
Sebuah kepemimpinan yang mengutamakan kaum lemah
Yang di pimpin oleh penguasa arif bijaksana yang lebih banyak memandang ke bawah


Senin, 08 Desember 2014

Asal dan Tujuan Cinta


Assalamu'alaikum Sahabat Abi Khalid :)

Sesungguhnya sejak lama ingin sesekali kubahas masalah cinta menurut pandangan ulama atau tokoh Islam. Siapa saja pasti bisa mengartikan dan menafsirkan apa itu cinta, hanya saja sebagian orang tak mampu mengolahnya sehingga dampak terburuknya adalah terlena oleh cinta yang sia-sia serta cinta yang dapat menjerumuskan.

Pertama, saya sangat bersyukur telah dikaruniai nikmat yang sangat luar biasa berupa orang-orang yang mencintai saya, orangtua, saudara, dan tentu saja para sahabat sekalian. Oleh karena itu, ijinkan saya untuk sedikit bercerita mengenai cinta.

Cinta itu suatu anugerah yang suci karena berasal dari Yang Maha Agung. Hanya saja, pemaknaan cinta sudah mengalami penyelewengan yang diakibatkan salah penempatan. Mari kita tengok perkataan Ibnu Arabi mengenai asal-muasal cinta serta tujuan cinta yang semestinya:

Dari cinta kita berasal
Dan atas nama cinta, Dia menciptakan kita
Karena tujuan cinta, kita mendatangi-Nya
Dan demi cinta pula, kita menghadap-Nya

Cinta, atau yang biasa disebut Al-Huub (love) adalah sebuah kata yang sarat makna, merdu ketika kita menyebutnya, dan indah ketika kita menuliskannya. Pada hakikatnya Islam telah mengajarkan agar cinta itu tersalurkan pada tempat yang selayaknya, karena di dalam Islam cinta itu sudah tercipta bersamaan dengan kelahiran kita di dunia. Ya, Allah menciptakan kita dengan cinta, kasih, dan sayang-Nya. Bahkan ulama sekelas Ibnu Abbas ra. tak membutuhkan banyak hal selain cinta. Ibnu Abbas berkata, “Hadzaa qatiilul hawa laa 'aqla wala qawada.” (Ini adalah korban dari nafsu yang tak berakal dan beraturan).
Cinta itu terletak dalam hati, setiap sanubari pasti memilikinya. Meskipun cinta tak dapat terlihat karena tersembunyi, namun yang pasti getarannya dapat kita rasakan. Kitapun harus berhati-hati dalam mengendalikannya, karena cinta juga mampu memberikan pengaruh yang kuat untuk membolak-balikkan fikiran sekaligus mengendalikan perilaku kita. Sedikit saja kita terkecoh, maka hal bodohpun sering dilakukan oleh sang pecinta.

Banyak dari sahabat Nabi, tabi'in, sampai ulama-ulama shaleh serta para
fuqaha terdahulu yang membahas mengenai cinta yang tetap bersandarkan pada ihyaauddin (ajaran agama). Ada yang menjelaskannya pada gubahan puisi, cerita, bahkan petuah-petuah singkatnya. Dan marilah kita sejenak membaca serta merenungkan petuah-petuah tentang cinta dari beberapa tokoh Islam yang Insya Allah kita sudah sedikit mengenal sosoknya.
Diantara tanda-tanda cinta adalah sulitnya perpisahan antara pecinta dan kekasih.” Imam Al-Bukhari
“Antara pecinta dan kekasihnya tak ada antara. Ia bicara dari rindu. Ia mendamba dari rasa.”
Rabi'ah Al-Adawiyah
Cinta adalah tujuan puncak dari seluruh maqam spiritual dan cinta menduduki derajat tertinggi.” Imam Al-Ghazali

Cinta yang hakiki adalah cinta tanpa syarat. Baginya, cinta adalah gelora hati terhadap yang dicintai sehingga menjadikan lupa pada diri sendiri.” Syaikh Abul Qasim Junaid Al-Baghdadi

Begitulah cinta, suka dukanya tiada habisnya jika tertuang dalam kata. Biarlah cinta terus menggema, karena pada dasarnya kita hidup bersamanya, selalu berdampingan di setiap masa.


Rasa cinta yang begitu mendalam dapat menimbulkan ketaatan yang sangat dahsyat. Sebuah ketaatan yang penuh totalitas dengan kesiapan melakukan apa saja demi yang dicintai, itulah loyalitas yang seharusnya dimunculkan oleh kaum Muslimin, yaitu menyandarkan cintanya pada Pemilik cinta, Allah Azza wa Jalla.
“Engkau berbuat durhaka kepada Allah, padahal engkau mengaku cinta kepada-Nya. Sungguh aneh keadaan seperti ini. Andai kecintaanmu itu tulus, tentu engkau akan taat kepada-Nya. Karena sesungguhnya, orang yang mencintai itu tentu selalu taat kepada yang ia cintai.” A'idh Al-Qorni
Engkau durhaka kepada Allah dan sekaligus menaruh cinta kepada-Nya. Ini adalah suatu kemustahilan. Apabila benar engkau mencintai-Nya, pastilah engkau taati semua perintah-Nya. Sesungguhnya orang menaruh cinta tentulah bersedia menaati perintah orang yang dicintainya.” Imam Asy-Syafii

Jika saya diperkenankan menafsirkan apa itu cinta, maka inilah tafsiranku mengenai cinta:
“Mulailah dari memberi, maka kelak kau akan menerima. Begitu pula dengan cinta, mulailah dengan mencintai, maka kelak kau akan dicintai. Sandarkan cinta kita pada Ilahi Roby, karena Dia-lah Yang Maha Memiliki dan sekaligus Maha Pemberi.”

Dan sebagai kalimat penutup, mari kita lihat sejenak Surah Ali-Imran ayat ke 31-32:
Qul in kuntum tuhibbuunallaha faattabi'uunii yuhbibkumullahu wayaghfir lakum dzunuubakum wallahu ghafuurun rahiimun. Qul athii'uullaha warrasuula fa-in tawallau fa-innallaha laa yuhibbul kaafiriin.”
"Katakanlah: 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu'. Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang. Katakanlah: 'Taatilah Allah dan Rasul-Nya; Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang-orang kafir'."

Salah satu do'a yang termaktub pada Hadist riwayat At-Tirmidzi ini mungkin bisa kita amalkan:
"Allâhumma innî as`aluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka wal amalal ladzî yuballighunî hubbaka. Allahumaj ‘al hubbaka ahabba ilayya min nafsî wa ahlî wa minal mâ’il bârid."

"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu cinta-Mu dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu dan aku memohon kepada-Mu perbuatan yang dapat mengantarku kepada cinta-Mu. Ya Allah, jadikanlah cinta-Mu lebih kucintai daripada diriku, keluargaku, dan air yang dingin (di padang yang tandus)."

Terimakasih telah menemani, mohon maaf jika ada yang kurang berkenan. Semoga bermanfaat.
Wassalamu'alaikum...

Hati merasakan cinta itu tumbuh
Terus melaju meski tak dikayuh
Menjadi obat dari luka lama yang enggan sembuh
Dari sisa-sisa pecinta yang membuatnya lusuh
Alhamdulillah, ada sajadah tempat mengeluh
Membuat cinta itu mudah berlabuh
Sekarang, kurasakan itu bersemi di saat Subuh
Berjuanglah sang pecinta sejati
Turuti yang tersirat dalam hati
Semoga, kebahagiaan hingga akhir hayat nanti

Kamis, 04 Desember 2014

Prahara Negeri Samudra - 2


"Abi, pohon itu tumbuhnya malu-malu."
"Iya, karena banyak benalu."

"Abi, perahu ini terus goyah."
"Iya, karena penumpangnya orang susah."

"Abi, Garuda itu tak mampu terbang."
"Iya, karena banyak koruptor sebagai penumpang."

"Abi, banyak burung pipit yang sekarat."
"Iya, karena lebih banyak tikus penjilat."

"Abi, lihatlah dia menyampah nasi."
"Iya, sedang di Kerajaan sibuk berebut komisi."

"Abi, susu tak mampu kubeli."
"Iya, karena banyak lintah yang tak teradili."

"Abi, kurasa aku ingin meninggal."
"Jangan sekarang, tanah kuburan lagi mahal."

"Abi, dengarkan suara perut."
"Iya, lebih keras dari suara burung perkutut."

"Abi, ... "
"Diam, jangan banyak keluhan. Curhatlah pada Tuhan. Bukan padaku yang dalam keadaan tertawan."

"Abi, aku sudah memohon pada Tuhan. belum juga ditunjukkan pada suatu jalan. Akankah aku diam dan berpangku tangan. Sekedar melihat mereka yang mengerang kelaparan."

"Aku bukan Kyai atau seorang da'i, aku hanya hamba yang mengharap ridha Ilahi."

"Abi, kalau begini caranya, maka sama halnya kita menunggu mati."

"Mati di mana atau kapan saja bukan masalah. Bukan kematian yang ditakuti hamba yang shaleh dan shalehah."

Senin, 01 Desember 2014

Bertaubatlah...!!!

"Astaghfirullahalladzi la ilaha illa huwal hayyul qayyumu wa attubu ilaihi."

Taubat...
Sebelum ajal mendekat
Sebelum raga menjadi mayat
Agar terbebas dari siksa akhirat

Meninggalkan semua dosa adalah perkara yang susah, sedangkan melakukan maksiat adalah perkara yang mudah.

Bagaimana kita akan beruntung dan disebut sebagai makhluk yang beriman jika kebiasaan buruk tak pernah kita tinggalkan. Mari kita sinkronkan hati dan ucapan untuk selalu beristighfar, memohon ampun kepada Rabb kita Yang Maha Pengampun karena sesungguhnya Rasulillah SAW juga bertaubat sebanyak seratus kali dalam sehari.

Dalam Surah At-Tahrim ayat ke-8, Allah telah berfirman, "Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu tuubuu ilallahi taubatan nashuuhan 'asa rabbukum an yukaffira 'ankum sai-yi-aatikum wayudkhilakum jannatin tajrii min tahtihaal anhaaru..."

Inti kandungan dari ayat tersebut adalah agar kita bertaubat kepada Allah dengan taubatan nasuha, yaitu taubat yang semurni-murninya dan tak tidak mengulangi perbuatan dosa. Semoga Allah mengampuni dan memasukkan kita ke dalam Al-Jannah yang di bawahnya mengalir sungai-sungai.

Bahkan, saya pernah membaca pada Kitab Ihya 'Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali, disebutkan sebuah riwayat bahwa para Malaikat mengucapkan "selamat" kepada Nabi Adam atas taubatnya ketika Allah menerima taubatnya.

Semoga hati dan lidah kita tersinkronasi untuk selalu beristighfar...

Perihal Cinta Yang Semestinya

Jangan main main dengan perasaan, mungkin saat ini tersenyum manis dengan ribuan angan-angan, tapi suatu waktu bisa terjatuh dan terluka dalam penyesalan. Maka, jadilah seorang sahabat, karena sahabat akan mewarnai lika-likumu di dunia ini. Dan kelak, pasti ada setitik cahaya dari seluruh sahabat itu, ambillah cahaya itu, karena mungkin itu adalah pelabuhan terakhirmu.

Kadang sebuah perasaan pun ingin sekali cepat terluahkan atau tersampaikan karena semakin lama ditahan akan semakin menyakitkan. Jika suatu perasaan sudah terutarakan, ada tiga kemungkinan yang didapatkan, yaitu diterima, ditolak, atau bahkan diacuhkan.


Perasaan yang tak terbalas mungkin akan membuat sang pecinta merasa tersakiti, tapi perlu diketahui bahwa menyibukkan diri berharap penuh dicintai adalah hal sia-sia jikalau kita tak menghargai dan mencintai diri kita sendiri dan terpenting adalah mencinta-Nya, Allah Azza wa Jalla.


Caranya gimana?
Hmmm... berdo'a dengan penuh kesungguhan dan penuh keyakinan. Salah satu do'a yang termaktub pada Hadist riwayat At-Tirmidzi ini mungkin bisa kita amalkan; "Allâhumma innî as`aluka hubbaka wa hubba man yuhibbuka wal amalal ladzî yuballighunî hubbaka. Allahumaj ‘al hubbaka ahabba ilayya min nafsî wa ahlî wa minal mâ’il bârid."
Artinya; "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu cinta-Mu dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu dan aku memohon kepada-Mu perbuatan yang dapat mengantarku kepada cinta-Mu. Ya Allah, jadikanlah cinta-Mu lebih kucintai daripada diriku, keluargaku, dan air yang dingin (di padang yang tandus)."


Selain itu, kita harus berusaha untuk melakukan apa yang telah diperintahkan serta menjauhi apa yang telah Allah dan Rasul larang. Saya pernah membaca suatu Hadist riwayat dari Imam Bukhari dan Imam Muslim yang kurang lebih mengandung tiga unsur atau tiga cara untuk mendapatkan manisnya iman, yaitu;
1. Cinta kepada Allah dan Rasul melebihi cintanya kepada selain keduanya.
2. Cinta kepada seseorang karana Allah.
3. Membenci kekafiran.


Begitulah cinta, suka dukanya tiada habisnya jika tertuang dalam kata. Kalau saya dibiarkan membahas masalah cinta, mungkin akan panjang sampai kehabisan quota. Jadi, sampai di sini dulu pembahasannya. Sebagai penutup, saya tuangkan perkataan Umar bin Khattab perihal cinta. Beliau pernah berkata, "
Janganlah cinta membuatmu beban yang berat, dan janganlah benci membuatmu hancur lebur."