Sabtu, 29 November 2014

Tarawih... Antara 8 atau 20 raka'at

Assalammu'alaikum Warahmatullah...

-Bagaimana menanggapi perbedaan antara shalat Tarawih 8 rakaat dengan yg 20 rakaat?
-Dan bagaimana dengan jumlah dan waktu (yg afdhol) pada saat shalat Tarawih dan Witir?
-Apakah harus pakai Qunut saat Witir?
____________________________________________

Shalat Tarawih adalah shalat Sunnah,,, Oleh karena itu pembahasan mengenai Tarawih seharusnya tak perlu diperdebatkan kecuali untuk kajian ilmiah...
Baiklah,, kita bahas satu persatu:

1. Tentang Jumlah Raka'at Pada Shalat Tarawih:
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa ia bermalam di rumah Maimunah (istri Nabi SAW). Sedangkan Maimunah adalah bibi Ibnu Abbas dari pihak ibunya. Ibnu Abbas berkata: "Aku berbaring di atas bantal melintang, sedangkan Rasulullah dan istrinya berbaring pula di atas bantal memanjang. Rasulullah tidur hingga pertengahan malam atau sedikit sebelum atau sesudahnya. Maka beliau bangun lalu duduk menghapus bekas tidur dari wajahnya dengan tanganya. Kemudian beliau membaca sepuluh ayat terakhir Ali Imran. Lalu berdiri menuju tempat air dari kulit yg dikaitkan. Beliau kemudian berwudhu dari tempat air itu dan menyempurnakan wudhunya. Kemudian Nabi SAW shalat."
Ibnu Abbas melanjutkan: "Maka aku pun banggun dan melakukan seperti apa yg dilakukan oleh Nabi SAW, kemudian aku beranjak dan berdiri disampinya. Lalu Nabi meletakkan tangan kanannya di atas kepalaku dan memegang telingaku yg kanan sambil menariknya. Nabi shalat dua rakaat, kemudian dua rakaat, lalu dua rakaat, lalu dua rakaat, lalu dua rakaat, lalu dua rakaat, kemudian Witir. Nabi SAW kemudian berbaring sampai datang kepadanya muadzin. Lalu beliau berdiri, kemudian shalat dua rakaat yg ringan, setelah itu beliau keluar lalu shalat subuh."
(HR. Bukhari)

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: "Bahwa shalat Nabi SAW adalah tiga belas rakaat, yaitu pada shalat malam."
(HR. Bukhari)

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa seseorang laki-laki bertanya pada Rasulullah mengenai shalat malam. Maka Rasul SAW menjawab: "Shalat malam itu dua rakaat, dua rakaat. Dan jika salah seorang di antara kalian takut akan masuk waktu Subuh, maka ia shalat satu rakaat yg membuat jumlah seluruh rakaat sebelumnya menjadi witir (ganjil)."
(HR. Bukhari)
Note: yg dimaksud dengan "...dua rakaat, dua rakaat..." adalah melakukan salam di setiap dua rakaat.

Dan dalam riwayat Aisyah dituturkan: "Sesungguhnya Nabi SAW tidak pernah menambah salatnya, baik pada bulan Ramadhan maupun diluar bulan Ramadhan dari 11 rakaat."
Note: 11 rakaat,,, 8 rakaat shalat malam dan 3 rakaat witir.

Namun,,, sejak Khalifah Umar bin Khattab, shalat malam di bulan Ramadhan (Tarawih) mulai dilembagakan (dikoordinir). Kala itu sang Khalifah melihat banyaknya umat muslim yg melakukan shalat malam di Masjid tapi tak terkoordinasi. Maka,,, Umar pun berkata pada Ubay bin Ka'ab untuk menjadi imam atas seluruh umat yg melakukan shalat malam itu. Dan Umar bin Khattab menekankan untuk selalu meramaikan Masjid dalam bulan Ramadhan dan menetapkan jumlah rakaat Tarawih menjadi 20 rakaat.
Setelah itu, Umar bin Khattab berkata: "Inilah bid'ah yg indah."

Para sahabat (bahkan hampir keseluruhan sahabat) tak ada yg menentang keputusan itu. Shalat malam (Tarawih) 20 rakaat ini pun tetap dilanjutkan saat Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib menjadi Khalifah (dan sekali lagi,,, tak ada yg menentangnya)... Tradisi ini pun terus berlanjut pada generasi seterusnya.

Imam Syafi'i juga mendapati bahwa penduduk Mekah dan Madinah juga melaksanakan Tarawih 20 rakaat. Bahkan pada masa Khalifah Umar bin Abdul Azis malah menambahkan menjadi 36 rakaat (belum termasuk witir) untuk mengimbangi jama'ah di Mekah yg selepas shalat mereka melengkapi dengan tawaf.

Dan dalam beberapa literatur Fiqh menyatakan bahwa shalat Tarawih dilaksanakan sebanyak 20 rakaat.

Jadi,,, bagi yg mengamalkan 8 rakaat silahkan dan yg mengamalkan 20 rakaat silahkan... :)
Semua baik,, semua sunah,, semua ada hujjahnya... Dan jangan saling menyalahkan dengan dalih "bid'ah".
____________________________________

2. Tentang waktu yg afdhol dalam salat malam dan witir:
Waktu pelaksanaan salat malam dan witir dimulai setelah shalat Isya' sampai akhir Sahur (menjelang Subuh), dan witir dikerjakan pada akhir waktu lebih utama, kecuali bagi mereka yg khawatir.
"Barangsiapa di antara kalian mengira tidak akan bangun pada akhir malam, maka hendaklah dia mengerjakan witir pada awal malam, dan barangsiapa di antara kalian mengira akan bangun pada akhir malam, maka hendaklah dia mengerjakan witir pada akhir malam, karena shalat pada akhir malam itu dihadiri (para malaikat), dan itu lebih utama."
(HR. Ahmad: 3/300)

Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata: "Di setiap malam Rasulullah melaksanakan shalat witir dan shalat witirnya berakhir sampai waktu sahur."
(HR. Bukhari)

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, bahwa Nabi SAW bersabda: "Jadikanlah akhir shalat malam kalian dengan witir."
(HR. Bukhari)

Dalam riwayat Ahmad, Abu Daud, dan Hakim. Rasulullah pernah bertanya kepada Abu Bakar Ash Shiddiq: "Kapan engkau melakukan witir wahai Abu Bakar?"
Abu Bakar menjawab: "Pada awal malam."
Lalu Rasul bertanya pada Umar bin Khattab: "Bila engkau wahai Umar?"
Umar menjawab: "Kami lakukan pada akhir malam."
Kemudian Rasulullah bersabda: "Engkau wahai Abu Bakar, suka berlaku hati-hati,,, dan engkau wahai Umar, menunjukkan keteguhanmu.

Jadi,,, semua benar. Tak perlu dipermasalahkan apalagi diperuncing. Yang jelas hindari witir dua kali dalam satu waktu (semalam) berdasar hadist riwayat At-Tirmidzi: "Tidak ada dua witir dalam satu malam."
____________________________________

3. Tentang Qunut
Hmmm,,, sekali lagi, hal ini termasuk Sunah.

Qunut pada Shalat Subuh diriwayatkan Shahih oleh Imam Bukhari dan Muslim.

Qunut pada Shalat Witir diriwayatkan Shahih oleh Imam At-Tirmidzi...
Ada juga pada riwayat:
-Abu Daud: 5 (Kitab Al-Witr)
-An Nasa'i: Qiyamullail 51
-Ahmad: 1/119, 200

Semoga ukhuwah tetap terjaga,,, :)

Kalau ada tambahan,,, mari dibagi pada saya yg masih tahap belajar :)

Lumajang, 26 Sya'ban 1434
Abi Khalid Al Java (B. Abdillah)

Aku Tetap Cinta Meski Kau Telah Tiada

"Allhumma Sholli Ala Muhammad"

Subuh dini hari tak seperti biasa, udara yang sejuk pun tak membangkitkan selera. Para sahabat tertegun sedih karena melihat mimbar itu masih kosong. Mimbar yang setiap hari digunakan Rasulullah, kali ini tak ditempati Nabi.

Mata teduh dan sapaan halus dari Rasulullah yang setiap kali bisa dinikmati oleh sahabat, pagi ini tiada. Senyum yang tiap kesempatan merekah, kali ini punah. Abu Bakar memahaminya, meski dengan berat hati, Abu Bakar pun maju dua atau tiga langkah menuju mimbar.

Ketika hendak mengangkat tangan untuk bertakbir, beberapa sahabat melihat Rasulullah yang menyibak tirai kamarnya. Hampir seluruh jama'ah yang hendak melakukan shalat Subuh pun berfikir bahwa Rasulullah yang akan memimpin shalat seperti hari-hari biasa. Abu Bakar segera mundur beberapa langkah masuk ke dalam shaf ma'mum. Tapi, dugaan Abu Bakar dan sahabat salah. Dari dalam kamar, ternyata Rasulullah melambaikan tangan beberapa kali, beliau memberikan sebuah isyarat agar shalat diteruskan dengan Abu Bakar sebagai imam. Tak berselang lama, Rasulullah pun tersenyum, dan dengan gerakan yang lembut tirai jendela ditutupnya, Rasul menghilang di balik tirai. Para sahabat segera melaksanakan jama'ah shalat Subuh. Setelah usai, mereka berdzikir, berdo'a, dan sebagian bertanya-tanya "Sudahkah tiba waktunya?"

Jam demi jam terlewati, dan demam yang dialami Rasulullah semakin meninggi, Fatimah dan Aisyah tetap menemani beliau. Rasulullah berbisik lirih, "Tak ada penderitaan atas ayahmu setelah hari ini." Demikian kalimat yg sempat dibisikkan pada Fatimah. Dan tak berselang lama, manusia terbaik dan yang paling mulia menghembuskan nafas terakhirnya, Senin 12 Rabi'ul Awal 11 H, dengan usia 63 tahun lebih 4 hari, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam wafat.

Kabar duka yang amat mendalam ini tersebar cepat. Keluarga dan para sahabat mengalami duka yang sangat hebat. Kehilangan manusia terbaik penegak syari'at. Umar yang mengetahui peristiwa ini langsung keluar menuju kerumunan orang. Ia menghunus pedangnya dan menancapkan pedang tersebut di tanah yang gersang. Lalu Umar berteriak dengan lantang, "Siapa yang telah mengatakan Rasulillah meninggal, maka akan aku potong tangan dan kakinya."

Mendengar perkataan ini, para sahabat pun menunduk dan terdiam. Mata tajam Umar menyibak dan melihat sekelilingnya tanpa terpejam, dengan mengangkat jari telunjuk yang diarahkan ke langit, Umar melanjutkan perkataannya, "Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak meninggal. Beliau menemui Rabbnya seperti Musa bin Imran. Beliau akan kembali menemui kaumnya setelah dianggap meninggal dunia."

Seakan-akan kematian Rasulullah tak bisa diterima oleh Umar karena rasa cinta yang begitu mendalam. Tak berselang lama, tampak debu yang mengepul dari arah bukit. Lalu terlihatlah seekor kuda yang dipacu dengan begitu cepat dan gesit, di atas punggung kuda itu tampak Abu Bakar dengan wajah memerah, sedih dan cemas yang tak tertahan. Abu Bakar lantas berhenti di depan Masjid dan langsung melompat turun. Ia langsung masuk ke ruangan dengan menerobos kerumunan para sahabat bagai singa yang hendak menerkam mangsa. Tanpa berkata sepatah katapun, ia langsung menemui putrinya, Aisyah. Lantas Aisyah menunjukkan jazad Rasulullah.

Abu Bakar melihat tubuh yang terbujur di pembaringan, didekatinya dan dibukanya penutup yang berwarna hitam itu. Air mata tak tertahan dan segera dipeluk jazad Rasulullah dengan erat. Abu Bakar lalu memandang wajah Rasulullah, lantas ia berbisik lirih, "Demi ayah dan ibuku sebagai tebusannya, Allah tak akan menghimpun pada dirimu dua kematian. Jika saja kematian ini telah ditetapkan pada dirimu, maka memang engkau sudah meninggal."

Beberapa saat kemudian, dengan langkah kecilnya, Abu Bakar keluar dan mendapati Umar yang masih berbicara pada orang-orang di sekelilingnya. Abu Bakar pun berkata, "Wahai Umar, duduklah."

Perkataan Abu Bakar tak digubris oleh Umar. Bahkan Umar semakin berdiri kokoh tak tergoyahkan. Pada akhirnya, Abu Bakar maju beberapa langkah dan berkata dengan nada yang lantang, "Wahai kaum muslimin, barangsiapa di antara kalian ada yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad telah meninggal dunia. Tetapi jika kalian menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah itu Maha Hidup dan tak pernah meninggal."

Ia berhenti sejenak, melihat keadaan sekelilingnya, lalu ia membaca Surah Ali-Imran ayat ke-144, "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang Rasul, sungguh telah berlaku sebelumnya beberapa orang Rasul. Apakah jika dia wafat atau terbunuh kalian akan berpaling ke belakang (menjadi murtad)? Barangsiapa berpaling ke belakang, maka ia tidak mendatangkan mudharat sedikit pun pada Allah, dan Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur."

Semua orang langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Apa yang dikatakan Abu Bakar telah menyadarkan mereka. Lantas Umar terjatuh, lututnya tertekuk di atas tanah dan tangannya menggapai pasir seakan hendak tersujud. Umar berkata, "Demi Allah, setelah mendengar Abu Bakar membaca ayat tersebut, aku menjadi limbung hingga tak kuasa mengangkat kedua kakiku, aku tertunduk ke tanah saat mendengarnya. Kini, aku sudah tahu bahwa Rasulullah benar-benar telah meninggal."

Singkat cerita, setelah proses memandikan jenazah selesai, beberapa sahabat berbeda pendapat tentang di mana beliau dimakamkan. Lalu Abu Bakar yang telah dibai'at menjadi Khalifah segera berkata, "Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasul Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, 'Tidaklah seorang Nabi meninggal dunia, melainkan dia dimakamkan di tempat dia meninggal dunia'."

Maka secepat kilat, Abu Thalhah segera menyingkirkan tempat tidur beliau dan menggali liang lahat seorang diri.

Sahabat fillah, Rasulullah telah tiada. Apakah kecintaan kita pada beliau juga akan ikut sirna?

Telah datang suatu riwayat yang Shahih dari Anas bin Malik, sesungguhnya ada seorang laki-laki dari penduduk lembah (Badui) datang kepada Nabi. Lalu orang itu bertanya, "Wahai Rasulullah, kapankah Kiamat itu terjadi?"
Rasulullah SAW menjawab, "Apa yg telah engkau persiapkan untuk Kiamat itu?"
Laki-laki itu menjawab, "Aku belum menyiapkan untuknya melainkan aku mencintai Allah dan Rasul-Nya."
Rasulullah menjawab, "Sesungguhnya engkau bersama dengan yang engkau cintai."

Do'a Jomblowers

Hai Mblooo.... Assalammu'alaikum...
Jangan galau dong, sama nih aku juga jomblo, tapi mari jadi jomblo yang elegan bukan jomblo yang murahan dengan memasang tarif obralan. Yuk sama-sama berdo'a dan berikhtiar, semoga kaum seperti kita ini segera dipertemukan dengan pasangan yang sudah digariskan serta diberi label "HALALLAN THOYYIBAN" idih kayak menu makanan aja ya Mblooo. Simak dibawah ini ya Mblooo...

Pertama, Istri Ya Allah.... Istri ^_^

"Rabbana hab lana min azwajina wa dzurriyatina quraata a'yunin waj'alna lil muttaqina imamaa..."
Artinya, "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah pula kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa..."

Ini adalah do'a  agar dikaruniai azwaj (istri-istri) dan dzurriyyah (keturunan) yang menjadi qurrah a’yun (penyejuk/penyenang dalam urusan dunia akhirat).

Kalau seorang wanita yang menginginkan suami, bisa membaca, "Rabbahu rabbi laa tadzarnii fardhan wa anta khayrulwaaritsiin..." 
Yang artinya, ""Ya Rabbku, janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah waris yang paling baik..." 

Khusus janda nih, bisa juga mengamalkan do'a dari Ummu Sulamah (janda dari Abu Salamah), yaitu membaca, "Inna lillahi wa inna ilaihi rooji'un. Allahumma'jurni fii mushibatii wa akhlif lii khoiron minhaa..."
Yang artinya, "Segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Ya Allah, berikanlah pahala kepadaku atas musibah yang menimpaku, dan gantikanlah aku dengan yang lebih baik dari pada musibah ini..."
======================

Kedua, Alhamdulillah Ya Allah... ^_^

"Rabbi awzi'ni an asykuro ni'matakallati an 'amta 'alayya wa 'ala waalidayya wa an a'mala sholihan tardhohu wa ashlih lii fii dzurriyatii..."
Artinya, "Ya Rabbku, ilhamkanlah padaku untuk bersyukur atas nikmatmu yang telah Engkau karuniakan padaku juga pada orang tuaku. Dan ilhamkanlah padaku untuk melakukan amal sholeh yang Engkau ridhoi dan perbaikilah keturunanku..."
Ini adalah do'a dan ucapan syukur ketika kita telah diberi pasangan hidup agar tetap bisa mensyukuri nikmat serta segera diberikan keturunan.

Dan do'a ini bisa disambung dengan do'a agar keluarga tetap sakinah mawaddah warahmah dengan membaca, "Rabbana waaj'alnaa muslimaini laka wamin dzurri-yatinaa ummatan muslimatan laka waarinaa manaasikanaa watub'alainaa innaka antattau-waabur-rahiim..."
Artinya, "Ya Rabb, jadikanlah kami berdua sebagai orang yang tunduk kepada Engkau dan jadikanlah di antara anak cucu kami menjadi umat yang patuh kepada Engkau dan tunjukan kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadah haji kami dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya, Engkaulah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang..."
======================

Ketiga, Keturunan Ya Allah... Keturunan ^_^

"Rabbi Hablii Minash-shoolihiin... La in aataytanaa shoolihan lanakuunanna minasy-syakiriin..." 
Artinya, "Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku seorang anak yang tergolong shaleh... Sesungguhnya, jikalau Engkau memberi kami anak yang shaleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur..."

Setelah menikah, jangan lupa bersyukur dan segera meminta keturunan. Tapi jangan hanya meminta saja, cobalah berikhtiar juga ya...
Selain do'a ini, bisa juga membaca do'a yang lain seperti, "Rabbahu qaala rabbi hab lii min ladunka dzuriyyatan thayyiban innaka samii'ud-du'aa..." 
Artinya, "Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik, sesungguhnya Engkau Maha Mendengarkan doa..."
======================

Keempat, Alhamdulillah Ya Allah... Alhamdulillah ^_^

"Rabbi j'alni muqimash-shalaati wa min dzurriyatii rabbana wataqabbal du'aa..."
Artinya, "Ya Rabbku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Rabb kami, perkenankanlah doaku..."

Naaaah... Setelah mendapat istri/suami dan diberikan keturunan, maka jangan lupa terus meminta agar Allah tetap menancapkan keimanan pada keluarga kita.
======================

Setelah kita terus memohon dan bersabar dengan ikhtiar kita, maka Allah pun tak segan-segan mengabulkan do'a-do'a kita. Allah menjawab dengan firman-Nya, "Waqaala rabbukumuud'uunii astajib lakum..."
Yang artinya, "Dan Rabbmu berfirman: 'Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu..'"

Yuk Mblooo kita buktikan bersama-sama keempat cara tersebut dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya... ^_^

Abi Khalid Al Abdillah
Lumajang, 19 November 2014

Minggu, 13 Oktober 2013

Perahu Tanpa Dayung EPISODE 002

Perahu Tanpa Dayung - Episode 002

Di sebuah kamar, tampak Abi terbujur lemas karena lelah sehabis pulang kerja. Tak lama kemudian, Ummi menghampirinya dengan membawakan handuk.

Ummi: "Tidakkah mandi dulu wahai suamiku? Setelah itu mari kita jama'ah."

Si Abi tak menghiraukannya dan tetap berbaring serta membelai-belai jenggotnya.

Ummi: "Kenapa Abi? Adakah sesuatu yang ingin engkau bicarakan pada istrimu ini?"

Si Abi tetap saja terdiam, sejenak memandang wajah Ummi dengan pandangan yang sedikit menakutkan. Ummi pun tertunduk lemas.

Ummi: "Apakah engkau marah padaku? Belum pernah aku melihat tatapan seperti itu duhai Abi."

Abi: "Aku tak tahu apakah ini marah atas kelakuanmu ataukah rasa cemburuku padamu."

Mendengar jawaban ini, Ummi tampak bingung.

Abi: "Kenapa 2 hari ysng lalu engkau keluar rumah tanpa sepengetahuanku? Dan kenapa tadi pagi engkau memasukkan pria yang tak kau kenal ke dalam rumahku? Tidakkah kau lupa atas firman-Nya, "...wanita yang shaleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada..." Dan Rasulillah pun telah memperingatkan, "Seandainya aku diperbolehkan menyuruh seseorang untuk bersujud kepada seseorang, sungguh aku akan menyuruh istri untuk bersujud kepada suaminya."

Si Ummi tertunduk, tetesan air mata mulai tampak pada pipinya yang merona.

Ummi: "Wahai Abi, aku keluar untuk menjenguk tetangga yang sakit, sedangkan pria yang engkau maksud adalah kawan kerjamu yang mencarimu. Maafkanlah aku Abi, aku telah khilaf tanpa meminta persetujuanmu kala itu."

Tangan Ummi bergetar karena mengetahui begitu besarnya amanah yang telah dibawanya, melihat hal ini, Abi mendekatinya dan duduk tepat di sebelahnya.

Abi: "Hmmmm... Aku mengetahui bahwa sesungguhnya engkau berkata jujur atas hal ini."

Ummi: "Apakah engkau akan menghukumku?"

Abi terdiam sejenak dan duduk memposisikan dirinya tepat berada di depan Ummi.

Abi: "Bagaimana aku akan marah dan menghukummu dengan kesalahan seperti itu. Bukankah aku harus bersyukur dengan apa yang ada di hadapanku. Selama ini engkau telah taat padaku, engkau rela melayaniku, ikhlas merawat dan mendidik anak-anakku serta tak mengeluh atas kemauanku. Allah telah menyadarkan ku, "...kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya..." Duhai istriku, tatapan wajahmu setiap pagi adalah semangatku, senyummu adalah pelepas lelahku, do'amu adalah penyambung rizkiku, dan tangismu adalah cambuk bagiku, akankah aku berpaling atas nikmat itu?"

Ummi tak kuasa menahan tangis mendengar jawaban dari suaminya, segeralah Ummi tersungkur dan memeluk lutut si Abi.

Ummi: "Maafkanlah atas kekhilafanku duhai suamiku. Ridha-Nya ada bersama ridhamu, begitu pula laknatmu. Sungguh, aku kira engkau akan mendiamkanku selama 3 hari atas kejadian ini, tapi ternyata engkau membuat dunia ini seakan milikku. Percayalah wahai Abi, engkaulah manusia yang kucinta dan atas ridhamu lah kan kugapai syurga, terimakasih Abi, engkaulah pemberian yang terindah dari-Nya dengan disatukannya tulang rusuk kita.

Abi mengangkat tubuhnya, dicium keningnya, dipeluk tubuhnya sembari melantunkan do'a, "Allahumma a'inni 'ala dzikrika wa syukrika wa husni 'ibadatika."
______________________________

Lumajang, 14 Sya'ban 1434
Abi Khalid (B. Abdillah)

Perahu Tanpa Dayung - EPISODE 001

Perahu Tanpa Dayung - Episode 001

Suami yang baik adalah suami apabila menegur dan memberi wejangan kepada istrinya haruslah dengan lemah lembut. Dan istri yang baik haruslah memegang teguh sami'na wa attho'na dalam hal kebajikan berumah tangga. Tidak saling menyakiti perasaan, apalagi perasaan sang suami.

Abi : "Abi sangat menyayangi Umi dan Abi juga tahu kalau Umi mencintaiku. Tapi kenapa sampai saat ini Umi menginginkan Abi masuk neraka?"

Umi : "Astaghfirullah...(mulai nangis). Kok Abi bilang gitu? Umi berharap kita masuk syurga sama-sama. Dan ketahuilah Abi, bahwa dalam setiap do'a, Umi selalu menginginkan kebahagiaan dan keselamatan dunia akhirat bersamamu serta anak-anak kita."

Abi : "Iya,,, Abi tahu soal itu."

Dengan nada dan gestur tubuh yang halus, Abi mendekati Umi. Tangan kiri Abi mulai memegang erat tangan Umi, sedangkan tangan kanannya digunakan untuk mendekap serta menyandarkan kepala Umi pada tubuh Abi, tepatnya antara dagu dan pundak Abi. Mulai dibelai rambut si Umi, Abi pun tersenyum dan kembali berbicara.

Abi : "Kalau Umi ingin menikmati harumnya bau syurga, Umi haruslah menutupi aurat sesempurna mungkin, bajunya dikendorin, jangan terlalu ketat. Gak usah posting-posting gambar yang tidak Abi sukai atau serta jangan berbicara dengan kata-kata yang seronok di manapun Umi berada. Ada baiknya bersikap dengan meniru dari istri-istri Rasulillah serta para sahabatnya. Abi sangatlah sayang ama Umi, dan hanya Umi lah wanita yang benar-benar Abi cintai dan diharap tua serta mati dan masuk syurga bersama. Tunjukkan pada anak-anak, bahwa kitalah panutan mereka."

Umi : "Iya Abi."

Tak mampu berkata-kata, hanya mampu mendekap tubuh Abi dengan seerat-eratnya, desahan nafas dan air matanya pun memenuhi baju takwa si Abi.

Begitulah kasih sayang dari mereka yang mengharapkan masuk syurga bersama.

_______________________________________________________________________
Berikut wejangan Rasulillah SAW kepada anaknya, Fatimah Az-Zahra:
> Wahai Fatimah, yang lebih utama dari semua itu adalah keridhaan suami terhadap istrinya. Jika suamimu tidak ridha, aku tidak akan mendo'akan kamu. Tidaklah engkau ketahui, ridha suami adalah ridha Allah? Dan kemarahan suami adalah kemarahan Allah?

> Wahai Fatimah, wanita yang mengoleskan minyak pada rambut dan jenggot suaminya serta memotong kumis dan menggunting kuku suaminya,  Allah memberinya minuman dari sungai-sungai syurga. Allah SWT meringankan sakaratul mautnya, dan kuburnya akan menjadi taman-taman syurga. Allah SWT akan menyelamatkannya dari api neraka serta selamat dari titian siraatal mustakim.

________________________________________________________________________
Lumajang, 4 Sya'ban 1434
Abi Khalid (B. Abdillah)