Sabtu, 17 Januari 2015

"Bahaya Valentine"

Oleh: Abi Khalid Al Abdillah

Bismillahirrahmanirrahiim... 
Saya akan sedikit mengulas pembahasan tentang "Valentine", dimulai dari sejarahnya hingga pandangan Islam mengenai perayaan tersebut. 

Sebelumnya saya mohon maaf apabila ada beberapa pendapat yang kurang berkenan dan sudilah Akhi wa Ukhty menginformasikan kepada kami atau sahabat Muslim yang lainnya mengenai bahaya Valentine's.

Ada beberapa versi tentang lahirnya Hari Valentine ini, tapi yang dominan dikenal adalah kisah seorang Pendeta bernama St. Valentine yang hidup di akhir abad ke-tiga Masehi. Raja Romawi yang bernama Claudius II melihat bahwa St. Valentine telah menyebarkan dan mengajak para pemuda untuk masuk ke Agama Nasrani, St. Valentine pun menganjurkan para pemuda untuk segera menikah di usia dini. Raja Claudius II pun marah dikarenakan bahwa pasukan yang anggotanya masih bujangan akan lebih semangat ketimbang yang sudah menikah, atas dasar itulah maka sang Raja memerintahkan untuk menangkap St. Valentine. 

Di dalam penjara, St. Valentine berkenalan dengan seorang gadis yang merupakan putri dari penjaga penjara yang terserang penyakit. Pendeta Valentine pun mengobatinya hingga sembuh sampai akhirnya mereka saling jatuh cinta. Peristiwa ini segera terdengar oleh Raja, dan akhirnya Raja Claudius II pun menjatuhkan hukuman mati terhadap St. Valentine. 

Sehari sebelum dihukum mati, St. Valentine mengirim sebuah kartu yang bertuliskan, "Dari yang tulus cintanya, Valentine." 

Jadi, sudah jelas itu adalah budaya asing yang kental dengan ajaran-ajaran yang tak sejajar dengan Islam. Dalam Al-Qur'an saja, saya telah menemukan minimal lima hujjah/dalil yang menentang perayaan-perayaan yang tak sesuai dengan syari'at, ditambah dari puluhan Hadist Rasul beserta pendapat para ulama mengenai hal itu. 

Imam Muslim telah meriwayatkan Hadist Shahih di mana bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Kamu kelak akan mengikuti jejak langkah umat-umat sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sehingga jikalau mereka masuk ke lubang biawakpun, kamu pasti akan mengikuti mereka." 
Lantas sahabat bertanya, "Ya Rasul, apakah yang Anda maksud dengan mereka itu adalah bangsa Yahudi dan Nasrani?" 
Maka Rasul menjawab, "Ya, siapa lagi kalau bukan mereka." 

Dalam Al-An'aam: 116 dan 117, "Wa-in tuthi' aktsara man fiil ardhi yudhilluka 'an sabiilillahi in yattabi'uuna ilaazh-zhanna in hum ilaa yakhrushuun. Inna rabbaka huwa a'lamu man yadhillu 'an sabiilihi wahuwa a'lamu bil muhtadiin." 
(Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk. Sesungguhnya Rabb-mu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk." 

Perlu diingat bahwa perayaan Valentine lebih dekat dengan perzinahan, padahal dalam Al-Isra' ayat ke-32 dijelaskan, "Walaa taqrabuuzzinaa innahu kaana faahisyaitan wasaa-a sabiilaa." 
(Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.) 

Semoga Allah senantiasa mengarahkan kita pada jalan yang lurus dan menjadikan kita saling berkasih sayang antar umat Muslim sesuai jalan yang diridhai-Nya. 

Saya juga pernah jadi pembicara di sebuah acara seminar yang diadakan Fak. Psikologi UMM beberapa tahun yang lalu. Dalam acara yang bertemakan "Pergaulan Anak Muda" itu saya mengungkapkan bahwa perbuatan maksiat dilakukan pada moment-moment tertentu. Perbuatan maksiat yang saya maksud adalah pesta miras sampai hubungan seksual pra-nikah.

Moment-moment tertentu tersebut di antaranya:
1. Pergantian malam tahun baru Masehi
2. Valentine Day
3. Perayaan Kelulusan/Wisuda
4. Perayaan ulang tahun
5. Adanya pesta atau konser musik

Kelima moment tersebut tentu bukan dari ajaran Islam. Bukan pula adat istiadat dari nenek moyang kita. Jadi, selayaknya kita berhati-hati dalam menyikapinya. Terlebih bagi orangtua, harus benar-benar mengawasi putra-putrinya agar tak terjerumus pada lubang dosa yang kelak juga bisa menyeret orangtuanya pada neraka. 

Mohon maaf jika ada salah kata, be carefully :)

Rabu, 07 Januari 2015

Do'a - 1



Ya Allah..
Dalam perjalanan kehidupan ini, telah Engkau jadikan bagi kami banyak teman. Baik yang dulu maupun yang sekarang, baik jauh maupun yang dekat. 
Kami memohon kepada-MU Ya ALLAH, limpahkan rahmat dan ampunan-MU kepada kami semua dan lindungilah kami serta selamatkanlah kami dari adzab kubur dan siksa neraka.
Ya Allah…
Jangan Engkau tinggalkan untuk kami suatu dosa melainkan telah Engkau ampuni. Dan tiada suatu aib melainkan telah Engkau tutupi. Tiada suatu duka melainkan telah Engkau hilangkan. Tiada suatu hutang melainkan telah Engkau bayarkan. Tiada suatu kesakitan melainkan telah Engkau sembuhkan. Tiada suatu hajat dari keperluan dunia dan akhirat yang telah Engkau ridhai dan tuntaskan.
Ya Allah...
Berikan kami ketetapan iman. Jiwa yang selalu bersyukur, lidah yang gemar berdzikir, tangan yang senantiasa memberi, hati yang penuh rasa ikhlas, mata yang menjaga syahfat, kaki yang melangkah untuk berjihad, dan telinga yang terhindar dari ghibah.
"Allahumma innaka na'budu wa laka nushallii wa nasjudu wa ilaika nas'a wa nahfadu narjuu rahmataka wa nakhsya 'adzaabaka inna 'adzaabaka balkuffaari mulhaq."
"Ya Allah! Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya untuk-Mu kami shalat dan sujud. Hanya kepada-Mu kami berusaha dan bersegera. Kami mohon rahmat-Mu dan kami takut siksa-Mu. Sesungguhnya siksa-Mu terhadap orang-orang kafir adalah suatu keniscayaan."
Ya Allah...
Kabulkanlah permohonan kami... Aamiin.

Senin, 05 Januari 2015

Anakku, Ibu Ingin Jumpa

Oleh: Abi Khalid Al Abdillah 

Hari itu, tepat tanggal 1 di bulan pertama tahun 2015, seorang ibu berjalan sempoyongan di sebuah gang kecil di antara bangunan-bangunan liar. Sesekali langkahnya terhenti setiap satu atau dua menit guna mengumpulkan tenaganya agar dapat melanjutkan perjalanannya. Ia tetap bertekad untuk menuju stasiun kereta yang memang tak begitu jauh dari sebuah gubuk reot yang biasa ia tempati. "Aku harus menemui anakku." kata ibu yang bernama Khadijah tersebut. Dan tanpa membawa bekal apapun, Khadijah tetap berjalan perlahan sambil mengenggam sepucuk surat dari anaknya, sebuah surat yang sudah lama ia simpan.

Lima belas menit kemudian, Khadijah sudah sampai di pintu gerbang sebuah stasiun kereta. Namun, ia tetap berdiri mematung dan sesekali kedua matanya memandangi orang-orang yang berlalu lalang. Akhirnya, datanglah seorang satpam berbadan kekar menghampirinya. Satpam itu bertanya, "Permisi Ibu, ada yang bisa kami bantu?"

"Tolong antarkan saya ke alamat yang tertulis dalam surat ini nak, Insya Allah nanti ongkosnya akan diganti oleh anak saya." jawab Khadijah sembari menyodorkan sepucuk surat yang tampak kusut.

Diterimalah surat itu oleh satpam, dahinya perlahan mengerut ketika membaca surat tersebut. Tak lama kemudian ia berucap, "Maaf Ibu, alamatnya terlalu jauh. Ibu harus naik kereta untuk sampai di Jakarta."

"Saya harus bertemu dengan anak saya, sudah 5 tahun kami tak bertemu." ucap Khadijah tampak sedih.

Si satpam yang mulai kebingungan segera memeriksa surat tersebut kembali, dan akhirnya kedua mata si satpam menemukan titik terang. Ia langsung mengambil handphone yang ada di sakunya, ia pencet tombol sesuai angka yang tercantum pada surat tersebut. "Alhamdulillah, nomornya masih aktif Bu." ucap si satpam sembari melemparkan senyuman ke arah Khadijah.

Tak lama kemudian, tampak si satpam menjawab sebuah salam yang menandakan bahwa panggilan itu terjawab. Handphone pun segera diberikan kepada Khadijah, dan dengan suara yang bergetar Khadijah berkata, "Assalamu'alaikum... nak, benar ini anakku Rahmat? Ini Ibu nak... Ibu kangen. Kangen sekali nak. Di Malang, Ibu sudah tak memiliki siapa-siapa. Ibu sangat rindu kumpul denganmu nak."

"Wa'alaikumsalam Bu, saya Rahmat Bu, anak Ibu. Ibu yang sabar ya, insya Allah bulan depan saya bersama istri dan anak-anak akan segera mengunjungi Ibu di Malang." jawab Rahmat.

"Nggak nak, biarkan Ibu saja yang ke Jakarta. Ibu sudah tak tahan ingin ketemu cucu-cucu Ibu. Ibu sudah tak kuasa memendam rindu ingin berjumpa denganmu nak. Hari ini Ibu harus ke Jakarta."

"Baiklah Ibu, sekarang handphonenya tolong berikan sama bapak yang tadi, biar saya bicara sebentar ya Bu." pinta Rahmat.

Handphone itu pun segera disodorkan kepada satpam yang masih di samping Khadijah. Dan langsung saja si satpam menyahuti, "Iya, ada yang bisa kami bantu Pak?"

"Sebelumnya saya mohon maaf Pak, bisakah Bapak pesankan tiket buat Ibu saya untuk tujuan Jakarta. Untuk ongkosnya nanti langsung saya ganti setelah Bapak kirim nomor rekening ke nomor handphone saya ini Pak." jawab Rahmat.

"Oh, tentu saja Pak. Kebetulan kereta tujuan Jakarta akan berangkat setengah jam lagi. Baiklah Pak, kalau begitu langsung kami uruskan tiket buat Ibunya Bapak." kata si satpam.

"Alhamdulillah. Oh ya Pak, kira-kira besok sampai stasiun Gambir pukul berapa?" tanya Rahmat.

"Antara pukul delapan pagi Pak." jawab si satpam.

###

Setelah terjadi obrolan dan kesepakatan antara Rahmat dan si satpam, maka si satpam pun segera mengurus tiket kereta tujuan Jakarta untuk Ibu Khadijah.

"Silahkan duduk di sini Bu, Ibu jangan ke mana-mana, besok pagi Ibu sudah sampai di Jakarta dan akan dijemput oleh anak Ibu." kata si satpam sembari menuntun Ibu Khadijah untuk duduk di sebuah bangku di dalam kereta.

"Alhamdulillah, terimakasih nak atas segala bantuannya. Semoga Allah membalas kebaikanmu nak." kata Khadijah.

"Aamiin."

Si satpam segera meninggalkan Khadijah dan ia kembali ke postnya untuk bertugas kembali. Wajah Khadijah tampak berseri-seri. Ia akan bertemu dengan anak dan cucu-cucunya, ia akan bertemu dengan istri dari anaknya, ia akan tinggal di rumah mewah milik anaknya, dan ia akan menjejakkan kakinya pertama kali di kota metropolitan, Jakarta. Di dalam kereta ia tak bisa tidur, bibirnya terus bergerak-gerak mengumandangkan do'a-do'a dan dzikir, sebuah perwujudan syukur dan harapan yang ia nantikan segera menjadi kenyataan.

###

Tepat pukul delapan lebih lima belas menit, kereta melaju sangat perlahan menandakan bahwa ia segera sampai di tempat pemberhentian. Kepala Khadijah tak henti-hentinya bergeleng ke kanan dan ke kiri sembari melihat ke arah luar jendela. Dan setelah kereta terhenti sepenuhnya, ia tetap duduk di bangku sembari melihat-lihat ke arah luar jendela. Akhirnya, dari luar jendela tampak seorang berpakaian rapi melambaikan tangannya memberikan isyarat kepada Khadijah. Khadijah tersenyum gembira dan segera turun dari kereta. Sebuah rasa kangen yang tak terbendung, Rahmat segera memeluk Ibunya dengan erat seketika itu juga. Tangisan sang Ibu membasahi baju anaknya. Bibir Khadijah tak lepas dari kata-kata syukur, "Alhamdulillah.... Alhamdulillah... Alhamdulillah."

"Ibu, mari Ibu." tangan Rahmat menggandeng Ibunya. Mengajaknya untuk segera keluar dari stasiun.

Setelah sampai di sebuah depot makanan, Rahmat mempersilahkan Ibunya untuk duduk. Rahmat mengambilkan beberapa makanan dan memberinya minuman. Mereka mengobrol dengan penuh senyuman, sesekali sembari menyantap sajian makanan ringan di hadapan mereka. Tiba-tiba handphone Rahmat berdering, tapi ia tak mengangkatnya. Lantas Khadijah bertanya, "Siapa nak? Kenapa tak di angkat?"

"Oh. ini teman kantor Bu. Oh ya Bu, Ibu tunggu di sini sejenak, saya ada sedikit urusan di sebelah. Tak jauh dari sini. Jika dalam waktu dua jam saya tak kembali, Ibu minta tolong saja sama penjaga depot ini untuk mengantarkan Ibu ke alamat yang ada di kertas ini." kata Rahmat sembari memberikan secarik kertas kepada Ibunya.

"Baiklah nak, Ibu akan tunggu. Hati-hati di jalan ya nak." jawab Khadijah.

Rahmat pun segera pergi meninggalkan Ibunya.

###

Dua jam sudah terlewati, tapi Rahmat juga belum kembali. Tapi tak ada wajah kelelahan dari Khadijah, ia tetap semangat, ia tetap gembira karena sebentar lagi akan bertemu dengan cucu-cucunya.

Akhirnya, setelah waktu yang ditentukan telah berlalu, Khadijah pun tertidur. Ia tertidur dengan posisi terduduk di sebuah bangku dengan kedua tangan masih memegang sebuah kertas yang diberikan anaknya tadi.

"Ibu... Ibu... Maaf, Ibu... bangun Bu."

"Rahmat...." ucap Khadijah terkaget karena terbangun dari tidurnya setelah ada yang membangunkannya.

"Bukan Bu, saya karyawan di depot ini. Maaf Ibu, depot ini segera tutup karena sudah jam sembilan malam." jawab orang yang membangunkannya yang ternyata adalah seorang karyawan.

"Astaghfirullah, maaf nak. Saya tertidur hingga tak tahu waktu. Tapi ijinkan saya sepuluh menit lagi untuk duduk di sini ya nak, karena saya sedang menunggu seseorang." pinta Khadijah.

"Maaf Ibu, dari jam setengah sembilan pagi tadi saya perhatikan Ibu tetap duduk di sini. Memangnya Ibu sedang menunggu siapa?" tanya si karyawan.

"Saya sedang menunggu anak saya. Tadi dia pergi sejenak dan akan kembali lagi. Tapi sudah jam segini kok anak saya belum kembali ke sini. Saya khawatir jika terjadi apa-apa terhadap anak saya."

"Hmmm, alamat anak Ibu di mana? Atau mungkin ada nomor yang bisa saya hubungi Bu?"

"Oh iya, tadi anak saya ngasih kertas ini. Anak saya tadi berpesan, agar memberikan kertas ini kepada karyawan depot ini agar ia bisa mengantarkan ke alamat yang tertulis di kertas ini jika anak saya tak kembali." kata Khadijah sembari memandang kertas tersebut.

"Boleh saya lihat Bu kertasnya." pinta si karyawan.

Khadijah segera memberikan kertas tersebut ke karyawan depot yang masih sangat muda itu. Betapa kagetnya si karyawan ketika membaca apa yang tertulis pada selembar kertas tersebut. Dalam kertas tersebut ternyata tidak tertulis petunjuk alamat maupun nomor dari anaknya, di kertas itu tertulis, "ASSALAMU'ALAIKUM, TOLONG RAWATLAH IBU INI. JIKA TAK BERKENAN, ANTARLAH IBU INI KE PANTI JOMPO. SAYA MENINGGALKAN UANG SENILAI DUA PULUH JUTA DALAM TAS DI ATAS MEJA UNTUK BIAYA PERAWATAN IBU INI. TERIMAKASIH."
============================

Karya ini terinspirasi dari sebuah vidio yang mampu membuat kedua mataku berkaca-kaca. Kalian bisa melihat vidio ini di https://www.youtube.com/watch?v=fwMeT7hYOyo

Selain itu, kalian juga bisa mengembangkan, share, edit, atau meneruskan karya saya ini meski tanpa mencantumkan nama saya. Semoga ada hikmahnya....
Dan pesan saya, sayangi orangtuamu, terlebih ibu yang telah mengorbankan nyawa demi anaknya. Harta sebanyak buih di lautan tak akan mampu menyandingi jerih payah dan jasa-jasa ibu kita.

Lumajang, 6 Januari 2015 (01.33 PM)

Jumat, 26 Desember 2014

Apakah kamu mengira akan masuk syurga?

Oleh: Abi Khalid Al Abdillah

"Am Hasibtum An Tadkhuluul Jannata..." 

"Apakah kamu mengira akan masuk syurga?" 

Hiii... Ngeri yah? 
Tenang, Allah Maha Penerima Taubat. Allah Maha Pemaaf, Maha Pencipta dan Pemberi Segala Sesuatu. 

Di atas adalah sebagian ayat dari Surah Al-Baqarah ayat ke-214, kita simak ayat lengkapnya:
"Am hasibtum an tadkhuluul jannata walammaa ya'tikum matsalul-ladziina khalau min qablikum massathumul ba'saa-u wadh-dharraa-u wazulziluu hatta yaquularrasuulu waal-ladziina aamanuu ma'ahu mata nashrullahi alaa inna nashrallahi qariibun."

Yang kurang lebih artinya:
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga? Padahal belum datang kepadamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan dengan bermacam-macam cobaan, sehingga berkatalah Rasul bersama orang-orang yang beriman bersamanya: 'Bilakah datangnya pertolongan Allah.' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat."

Hmmm, semakin tinggi suatu pohon, maka angin yang menerpa pun semakin kencang. Cobaan tak menjadikan kita lemah, tapi justru membuat kita semakin kuat, karena kita masih mempunyai Allah Yang Maha Penolong

Simple Hijab

Oleh: Abi Khalid Al Abdillah

Bentengi dirimu dengan Hijab

Sebelum datangnya sebuah adzab

Hijab adalah benteng utama dari iman
Yang tentu menjauhkanmu dari fitnah dan godaan
Hijab bukan sekedar hiasan
Tapi hijab adalah kewajiban
Fashion itu tak perlu bermewah-mewahan
Cukup dengan berhijab, maka kau sudah menjadi perhiasan

Jadilah sebenar-benarnya muslimah
Menyelam secara kaffah
Terus berbenah, bermuhasabah
Berpredikat shalehah, dan raih Al Jannah

Deru dan Debu Perang Badar

Oleh: Abi Khalid Al Abdillah

Rasulillah SAW mempunyai 313 pasukan, sedangkan kaum kafir mempunyai 1.300 tentara. Di dalam 313 pasukan kaum muslimin hanya terdapat dua ekor kuda, sedangkan dalam tentara musuh terdapat lebih dari 200 kuda. Pasukan muslimin mempunyai 70 onta untuk 313 pasukan, sedangkan kaum kafir mempunyai lebih dari 1.000 onta.

Pertanyaannya, apakah jumlah itu seimbang?

Abu Bakar Ash-Shiddiq lantas berdiri dan berkata dengan lantang, "Wahai Rasulullah... Pergilah!!! Kami senantiasa berada di belakangmu."

Kemudian menuyusul Umar bin Khattab, ia berkata, "Wahai Muhammad!!! Pergilah...!!! Kami berada di belakangmu."

Mendengar ungkapan dari para sahabat, maka Rasulillah SAW melangkahkan kaki keluar dari tendanya. Beliau menengadah ke langit lalu berseru, "Allahuakbar....!!! Jibril bersama 3.000 Malaikat turun untuk membantu orang-orang yang beriman."

1433 tahun yang lalu di bulan Ramadhan, tepat hari ke-17 Ramadhan, adalah terjadinya perang yang besar, perang Badar. Perang besar yang Allah telah jelaskan sebagai pertempuran furqan, pembeda antara yang haq dengan yang bathil.

Perang ini dimulai ketika Nabi Muhammad mendengar kabar bahwa Abu Sufyan telah memimpin sebuah karavan besar dengan ratusan onta. Maka Rasul memutuskan untuk menghadang rombongan yang hendak menyuplai orang-orang Quraisy yang sebelumnya telah merampas hak-hak kaum muslim.

Nabi Muhammad segera keluar Madinah bersama beberapa rombongan sahabat, 313 sahabat yang beriman. 313 sahabat dengan perlengkapan seadanya, hanya beberapa orang saja yang bersenjatakan lengkap.

Di lain sisi, Abu Sufyan yang terkenal cerdik telah mendengar berita penghadangan ini. Maka Abu Sufyan segera mengutus beberapa orang untuk menemui kaum Quraisy agar menyerang kaum muslimin. Maka, Abu Jahal dengan rasa benci yang terlalu tinggi terhadap Muhammad dan Islam segera menyiapkan 1.300 orang untuk menyerang Muhammad.

Sebenarnya, Abu Sufyan sudah berhasil lolos dari hadangan pasukan muslimin. Dan Abu Sufyan juga sudah mengirim utusan kepada Abu Jahal untuk menarik pasukannya kembali ke Makkah (yang kembali ke Makkah berjumlah 300 orang), tapi Abu Jahal ingin tetap berperang melawan Muhammad.

Di sinilah Rasul mendengar berita bahwa Abu Sufyan telah berhasil lolos, dan di hadapan kaum muslim justru ada pasukan yang dipimpin Abu Jahal dengan jumlah yang tak seimbang. Rasullulah segera mengumpulkan para sahabat, lalu beliau bersabda, "Aku menjanjikan kepada kalian bahwa kita akan keluar dan menyerang karavan Abu Sufyan dan mengganti kerugian kita ketika di Makkah dan kembali dengan ghanimah ke Madinah, tapi seperti yang kalian ketahui bahwa Abu Sufyan berhasil lolos melewati rute yang lain untuk menuju Makkah. Dan sekarang kaum Quraisy telah keluar dengan 1.000 pasukan untuk menghadapi dan memerangi kalian, jadi pendapat kalian?"

Lihatlah bahwa Rasulillah dan para sahabat tidak siap untuk menghadapi 1.000 pasukan yang dipimpin oleh Abu Jahal.

Diskusi terus berlanjut, dan Rasul kembali bersabda, "Aku menjanjikan kepada kalian satu hal, tapi sekarang menjadi perang dengan orang-orang yang jumlahnya tiga sampai empat kali lipat jumlah kita, dan mereka lebih siap dari kita. Jadi bagaimana menurut kalian?"

Setelah Abu Bakar dan Umar bin Khattab menyampaikan pendapatnya, maka giliran Al-Miqdad bin Aswad berdiri dan ia berkata, "Wahai Rasulillah...!!! Apakah kau pikir kami akan berkata padamu apa yang dikatakan Bani Israel kepada Musa, ketika Musa memerintah mereka untuk memasuki Yerusalem, maka Bani Israel berkata kepada Musa, 'Kau dan Tuhanmu pergilah. Kami akan tetap di sini.'"

Al Miqdad terdiam sejenak dan ia tetap berdiri di tengah-tengah kerumunan para sahabat, lantas ia melanjutkan perkataanya, "Ya Rasulullah...!!! Kami tidak akan mengatakan seperti perkataan dari Bani Israel. Kami akan berkata padamu, 'Kau dan Tuhanmu pergilah. Kami akan ikut bersamamu.'"

Abu Bakar, Umar, dan Al-Miqdad adalah tiga sosok pemimpin dari Muhajirin, dari orang-orang yang berhijrah. Sedangkan dari 313 pasukan tersebut mayoritas berasal dari kaum Anshar Madinah. Maka Rasulillah dengan kebijaksanaannya ingin mendengar pendapat dari kaum Anshar. Beliau bertanya kepada mereka, "Katakanlah apa yang kalian pikirkan. Berilah aku saran. Katakan!!!"

Giliran Sa'ad bin Mu'adh, seoarang pemimpin dari kaum Anshar. Siapa yang tidak mengenal beliau, beliau lah yang dimaksud dari hadist Rasulillah SAW, "Inilah seseorang yang dikarenakan kematiannya singgasana Allah berguncang."
Sa'ad bin Mu'adh langsung berdiri, ia berkata kepada Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah...!!! Allah telah mengutusmu kepada kami dengan membawa kebenaran. Dan kami mengikutimu. Kau memberi perintah kepada kami, maka kami mematuhimu. Kau melarang kami, maka kami pun meninggalkannya."

Kedua mata Sa'ad melihat sekeliling para sahabat, lalu ia melanjutkan perkataanya, "Wahai Rasulullah...!!! Kami telah memberikan sumpah dan ikrar kami kepadamu bahwa kami akan tetap berdiri bersamamu bagaimanapun situasinya. Dan demi Allah, jika kau melintasi samudra, maka kami akan berada di belakangmu. Hari ini adalah hari di mana Allah Azza wa Jalla ingin menunjukkan kepadamu bahwa kami adalah pria sejati dan kami patuh terhadap kata-katamu. Dan demi Allah, kami sangat sabar berkenaan dengan pertarungan dan sangat teguh berkenaan dengan perang."

Rasulillah akhirnya melihat semangat yang luar biasa dari para sahabat. 313 orang dengan 2 kuda dan 70 onta, setiap onta mengankut 2 atau 3 orang sahabat termasuk Nabi Muhammad SAW. Bahkan Rasulillah SAW berbagi satu onta dengan Ali bin Abi Thalib r.a dan Usama r.a.

Ali dan Usama saling bertatap mata, "Bagaiman mungkin kita saling berbagi onta dengan Rasulullah SAW? Biarkan Rasulullah yang naik, dan kami yang berjalan."

Mereka segera bertanya pada Rasulillah SAW, "Ya Rasulullah, bagaimana jika engkau yang menaiki ontanya, dan kami yang berjalan?"

Maka Rasul bersabda kepada mereka, "Kalian tidak lebih kuat dariku untukku tidak berjalan, dan tidak juga kalian lebih baik dariku untukku tidak mendapatkan pahala dari Allah Azza wa Jalla."

Lihatlah, betapa rendah hatinya seorang Nabi kepada sahabat dan untuk orang-orang yang beriman. Mereka menuju Badar, 150 kilometer dari Madinah, setengah perjalanan menuju Makkah.

Keyakinan para sahabat sudah bulat, bagaimana mereka akan kalah jika Allah bersama mereka meski di depan ada pasukan yang jumlahnya jauh melebihi mereka. Bagaimana pasukan kecil akan kalah jika mereka didukung oleh Allah dan Rasul serta Malaikat-Nya.

Ada dua pilihan di hadapan mereka, mati syahid dan mendapat kemulyaan di syurga ataukah pulang dengan membawa kemenangan.

Segera setelah sampai di Badar, Rasulillah segera memerintahkan kepada para sahabat unutk membagi jumlah pasukannya. Pasukan Anshar dipimpin oleh Sa'ad bin Mu'adh, dan dari Muhajirin dipimpin oleh Ali bin Abi Thalib. Dari sayap sebelah kanan dipimpin oleh Zubair bin Al-Awwam yang mengendarai kuda. Dan dari sayap kiri dipimpin oleh Al-Miqdad bin Aswad yang juga mengendarai kuda. Sedangkan bendera perang dibawa oleh Musab bin Umair. Dan kepemimpinan perang berada pada Rasulillah SAW sendiri.

Pada malam ke-17 Ramadhan, Allah membuat seluruh sahabat tertidur dengan pulas. Hanya Rasulillah SAW yang tetap terjaga. Beliau tetap terjaga di bawah naungan Allah Azza wa Jalla, Rasulullah sepanjang malam melakukan shalat dan berdo'a agar Allah senantiasa memberikan pertolongan kepada kaum muslimin yang sedikit jumlahnya.

Dan di pagi hari, tepat hari ke-17 Ramadhan, telah tertata rapi barisan musuh tepat di depan perkemahan kaum muslimin. Allah telah mengabulkan do'a-do'a Rasulillah, pasukan musuh yang berjumlah besar itu tampak sangatlah kecil di mata para sahabat.

Majulah utusan Quraisy, ia meminta untuk mengirim tiga orang muslim yang terkuat untuk maju ke medan perang untuk melawan tiga orang terkuat dari kaum Quraisy.

Tiga orang dari Quraisy itu adalah Utbah, Sheibah, dan anaknya Al-Walid bin Sheibah. Maka Rasulillah segera mengutus tiga orang dari Anshar Madinah tapi pihak Quraisy menolak untuk bertempur dengan ketiga orang Anshar tersebut dengan alasan bahwa mereka hanya ingin bertempur melawan kaum mereka sendiri, yaitu sama-sama berasal dari Makkah.

Jadi Rasulullah berseru kepada pasukan, "Wahai Hamzah, wahai Ali, wahai Ubaidah...!!! Bangunlah untuk syurga. Luasnya pintu syurga seluas langit dan bumi. Bangun...!!! Bangun dan lawanlah orang-orang ini."

Tak menunggu waktu lama, mereka pun berdiri. Ketahuilah bahwa Hamzah, Ali, dan Ubaidah adalah sahabat sekaligus keluarga dekat dari Nabi Muhammad SAW.

Akhirnya pertarungan dimulai, Hamzah dan Ali berhasil membunuh musuhnya masing-masing. Sedangkan Ubaidah terluka terkena sabetan pedang, dan setelah itu Hamzah bersama Ali membantu Ubaidah untuk membunuh musuh terakhir itu. Ketiga orang tertangguh dari Quraisy telah berhasil dilumpuhkan. Kejadian ini tentu saja menambah semangat dari orang-orang yang beriman dan menurunkan moral dari orang-orang kafir Quraisy.

Dan saatnya, 313 melawan 1.000 pasukan. Rasulillah segera berdo'a, "Ya Allah, kemenangan yang telah Engkau janjikan padaku."

Lalu Rasulillah keluar dari tendanya dan berseru, "ALLAHUAKBAR....!!! Jibril dengan 3.000 Malaikat telah turun untuk membantu umat muslim."

Dan saya pernah membaca suatu riwayat bahwa pasukan Quraisy juga didatangi oleh setan yang berwujud manusia, ia bernama Suraqah bin Malik. Suraqah memberi semangat kepada kaum kafir dengan berkata, "Kau tak akan kalah karena aku bersama kalian. Dan aku lah yang akan membantu kalian."

Tapi ketika Suraqah bin Malik melihat Jibril, Mikail, dan ribuan Malaikat turun ke bumi, maka ia pun melarikan diri. Maka Abu Jahal berteriak memanggilnya, "Wahai Suraqah...!!! Kemana engkau hendak pergi?" Maka setan itu pun menjawab, "Aku bebas dari kalian. Aku mengundurkan diri dari kalian."

Ketahuilah kalian siapakah yang berhasil mendekati dan merobohkan Abu Jahal?
Mereka adalah dua anak kecil dari kaum Anshar Madinah, mereka bernama Muadh bin Affrah (syahid) dan Muadh bin Amr Al-Jammuh.

Allah memenuhi janji-Nya... Allah telah memberi kemenangan kepada kaum muslim dalam pertempuran ini. 70 orang kafir telah terbunuh dan 70 menjadi tawanan. Sedangkan dari kaum muslimin hanya 14 orang yang menemui syahid. Dan yang terbunuh dari kafir Quraisy kebanyakan adalah para pemimpinnya. Yaitu Abu Jahal, Umayyah, Utbah, Sheibah, dan Al-Walid. Mereka lah yang paling sering menghina Rasulillah SAW.

Sejarah telah membuktikan, bahwa banyak kelompok kecil mengalahkan kelompok yang besar. Ingatlah, bahwa kebenaran selalu ada, bahwa kebenaran selalu megalahkan kebathilan.

"Al-haqqu min rabbika falaa takuunanna minal mumtariin..."
"Kebenaran itu adalah dari Rabb-mu, sebab itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu..." (Al-Baqarah: 147)

11.30 WIB
Lumajang, 04 November 2014

Sepucuk Surat Dari Yang Belum Terlahir


Oleh: Abi Khalid Al Abdillah 

Berawal dari sebuah perkenalan 
Dilanjut dengan beberapa candaan 
Yang ujung-ujungnya tetap saja rayuan 
Akhirnya pun mereka jadian 
Istilah kerennya tuh pacaran
Jadi sering ketemuan
Jalan-jalan bergandengan tangan
Kalau sepi ya berpelukan
Sampai keadaan menentukan
Mulai berani berciuman
Kedua tangan pun melakukan penjelajahan
Hingga akhirnya berhubungan badan
Akhirnya wanita telat datang bulan
Dia mengadu minta pertanggujawaban
Tapi si Pria keburu kabur duluan
Daripada malu maka digugurkan
Hari demi hari pun diisi dengan PENYESALAN

Buatnya gampang dan penuh kesenangan
Setelah jadi dibuang dan disia-siakan
Hmmm, sungguh ironis pergaulan akhir jaman.

Lumajang, 24 Desember 2014

Ingin tidur kita ini bernilai di sisi Allah?


Oleh: Abi Khalid Al Abdillah

1. Ketahuilah waktu-waktu yang tak baik untuk tidur, di antaranya, jangan tidur setelah makan, jangan tidur selepas Subuh, jangan tidur di antara Ashar sampai Maghrib, jangan tidur sebelum Shalat Isya'.

2. Ketahuilah waktu-waktu yang baik untuk tidur. Menurut saya, waktu tidur yang baik adalah di malam hari antara pukul 9 sampai 12 malam. Biasakan untuk tidur di waktu yang sama dan bangun di waktu yang sama pula, jadikan itu sebagai rutinitas.

3. Sebelum tidur, cobalah berwudhu selayaknya hendak Shalat.

4. Sebelum berbaring, bersihkanlah tempat tidurmu dengan penebah atau selembar kain. Hal ini juga disunnahkan.

5. Setelah berada di atas tempat tidur, angkatlah kedua telapak tanganmu tepat di depan wajah dan bacalah Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Nas. Setelah itu usapkan pada wajah dan terus ke bagian yang kamu hendaki (kecuali kemaluan/anus).

6. Bacalah ta'awwudz dan diteruskan do'a, "Allahumma bismika ahyaa wabismika amuut."

7. Perhatikan posisi tidur. Jangan tidur tengkurap atau berbaring dengan perut berada di bawah karena posisi ini tak disukai Allah. Dan jika tidur terlentang, maka lipatkanlah kakimu. Sedangkan posisi tidur yang sangat dianjurkan adalah miring ke kanan dan gunakan tanganmu sebagai bantal di pipimu.

8. Pejamkan mata sembari terus mengingat Allah melalaui dzikir-dzikir yang kamu kuasai sampai terlelap.

9. Setelah terbangun, maka berdo'alah, "Alhamdulillahil-ladzi ahya-na ba'da ma-ama tana wa ilaihin-nusyur."

Do'a mendapati mimpi buruk, "Allahumma inni a'udzubika min 'amalisy-syaithani wa sayyia-til ahla-mi fainnama la takunu syaian."

Do'a sulit tidur, "Allahumma gharatin nujumu wa hadatil 'uyunu wa anta hayyun qayyumun la ta'khudzuka sinatun wa la naumun ya-hayyu ya-qayyumu ahdi laili wa anim 'aini."

Silahkan Share... :)
Lumajang, 20 Desember 2014

Prahara Negeri Samudra - 5


(Eksklusif - Pray for Banjarnegara)

Oleh: Abi Khalid Al Abdillah

Tanah-tanah kian melangkah, membuat atasnya menjadi goyah.

Rentetan bencana menyelimuti, banyak yang sekarat terlebih mati.

Tragedi membuat seluruh desa terkubur, mayat-mayat terendam lumpur.

Barisan manusia berlalu lalang, membahu mencari yang hilang.

Akankah tragedi terus berlanjut, membuat manusia semakin terkejut.

Antara ujian dan adzab, semoga lolos dari hisab.

Amal sebagai penolong mereka, diharap bebas dari neraka.

Ahli waris patut mendo'akan, sekedar Al-Fatehah untuk meringankan.

Bencana pasti terjadi lagi, ia datang dan pergi.

Bencana tak datang sekali, siapkan untuk menyambutnya kembali.

Lumajang, 21 Desember 2014

Hikmah - 2


Oleh: Abi Khalid Al Abdillah

Tahukah kamu? Ada beberapa amal yang tampaknya mudah tapi sangat sulit untuk diamalkan, bahkan sekelas Sahabat Nabi pun banyak yang angkat tangan. Amal yang tampak mudah tapi sulit dilakukan itu adalah TIDAK IRI DAN DENGKI.

Tahukah kamu? Ada amal yang sangat mudah dilakukan, tapi sering kita lalaikan. Amal itu adalah menyempurnakan dan menjaga Wudlu. Sebagai bocoran saja, dari kalangan Sahabat yang dapat mengistiqamahkan amalan ini adalah Bilal.

Tahukah kamu? Ada amalan di mana mencuri justru mendapatkan pahala. Yaitu ketika kita mendengar do'a, maka kita ikut meng-aamiin-kan. Juga ketika mendengar ucapan "Assalamu'alaikum" yang ditujukan pada orang lain, dan kita menjawab "Wa'alaikumsalam"

Tahukah kamu? Bahwa sebenarnya, ada satu sikap sombong/angkuh yang tidak dibenci Allah. Yaitu, sikap sombong dan angkuh ketika menghadang atau berperang melawan musuh-musuh Allah dalam suatu peperangan.